Saturday, September 14, 2013

Tugas Binus Festival

Pengalaman saya sebagai Binusian 2017 dimulai dari GO atau General Orientation yang diawali dengan briefing yang menginfokan tentang apa yang harus kami persiapkan selama menjalani GO. Keesokan harinya, hari pertama kami megikuti FEP atau Freshmen Enrichment Program, saya cukup gugup dengan apa yang akan terjadi pada hari itu karena selama ini saya selalu berfikir bahwa ospek-ospek perkuliahan itu cukup keras. Sebelum briefing, sesampainya di kampus syahdan, awalnya saya sedikit bingung mencari kelas briefing, karena saya baru pertama kali berada di sana, sehingga saya perlu bertanya kepada salah satu karyawan disana. Di saat briefing, kami ditemani kakak-kakak BC kelas kami ABN01, yaitu ko Leonard, ko Reinard, ko Wilis atau kami sering panggil “koko k-pop” dengan “poni lempar”-nya, ko Hendry, ko Michael, ci Christy, ci Silvia dan ci Merry. Dengan singkatan "BC" yang merupakan kepanjangan Buddy Coordinator, saya teringat guru SMA saya yang bernama Bu Christin yang juga sering dijuluki BC. Dia adalah sesosok guru killer dan guru paling ditakuti d sekolah saya.

Disaat briefing, kami diharuskan untuk mengenakan kemeja putih polos berlengan pendek, dengan celana panjang hitam sebagai seragam selama kami FEP. Mereka juga memberitahukan kami untuk membawa 2 buah balon helium yang dapat terbang untuk besok, dan seperti yang dikatakan BC kami, penduduk sekitar punya telinga yang tajam untuk hal-hal seperti ini. Sepulang briefing tersebut saya dan teman-teman saya keluar dari kampus Syahdan dimana kami dibriefing dan benar saja, kami melihat banyak sekali penjual balon di depan kampus, tentu dengan memanfaatkan kesempatan ini, para pedagang tersebut menaikkan harga jual mereka setinggi mungkin. Balon yang mungkin dapat kita beli dengan 2 ribu rupiah, dijual oleh para pedagang dengan harga 5 sampai 10 ribu rupiah. Saya dan teman-teman saya langsung datang menuju salah satu penjual balon tersebut dan berniat membeli sepasang balon untuk besok, tapi karena takut balonnya akan pecah atau kempis saat perjalanan, kami pun memesan balon tersebut untuk diambil keesokan harinya. Awalnya saya berfikir, “balon apa ini, beli saja sampai mesen-mesen segala dan pembayaran dp seperti beli mobil”. Lalu keesokan harinya, saya sampai di kampus syahdan pada hari pertama FEP, saya mengambil balon pesanan saya dan mencari teman-teman yang saya kenal, karena saya tidak mau terlihat seperti anak hilang yang hanya duduk-duduk sendiri. Saya pun bertemu dengan salah satu teman SMA saya yang bernama Reynard dan Bernard, karena saya masih belum mengingat wajah-wajah dan nama-nama teman sekelas saya di ABN01, jadi saya hanya mencari teman-teman saya yang berasal dari SMA yang sama. Teman saya yang juga ikut memesan balon bersama saya yang bernama Devi sepertinya akan datang terlambat sehingga ia menitipkan balon pesanannya untuk di ambil oleh salah satu teman saya yang lainnya bernama Calvyn. Menunggu teman saya yang tak kunjung datang, saya dan beberapa teman saya pergi ke lapangan parkir di sebelah kampus mengikuti kakak-kakak BC dan teman-teman sekelas saya dimana kegiatan akan dijalankan, balon-balon kami pun dikumpulkan oleh para BC dan kami mulai berbaris ditempat yang telah ditentukan.

Harus saya akui, kegiatan pertama tersebut cukup membosannkan, tetapi hal tersebut mulai menjadi menarik disaat salah seorang dosen memanggil dan "mengintrogasi" beberapa buddy yang terlambat, dan salah satunya adalah teman sekelas saya di ABN01, dosen tersebut memanggilnya dengan sebutan "Ki Hajar Dewantara" disebabkan oleh penampilannya yang sangat rapi dan khas tersebut. Di akhir acara, dilaksanakanlah sesi pelepasan balon yang dibawa oleh para buddy, yang sudah terikat dengan sejenis spanduk sebagai tanda berlangsungnya FEP Binusian 2017. Lalu saya memandanginya sambil berfikir, “terbanglah balon seharga 20ribu..”. Setelah itu, kami kembali ke dalam kelas kami di ruang LDA syahdan, saya tidak terlalu ingat dengan sisa hari tersebut. Pada akhir sesi, kami pun pulang, saya pulang bersama teman-teman satu SMA saya, Calvyn, Rudy, Devi dan Olivia. Saya pulang dengan menggunakkan bus Trans Jakarta, saat itu saya masih buta arah menggunakkan bus Trans Jakarta, saya pun mulai mengingat rute-rute yang dapat saya tempuh untuk pulang ke rumah saya, selagi mengingat, saya juga bertanya dengan teman saya yang bernama Rudy karena dia sangat hafal dengan rute-rute bus Trans Jakarta, sampai-sampai saya mengatakan kalau dia sangat cocok untuk menjadi knek bus. Dengan menggunakkan bus Trans Jakarta, saya menempuh perjalanan pulang sekitar 1,5 jam sampai hampir 4 jam tergantung dari keadaan jalan disebabkan jarak rumah saya yang cukup jauh yaitu di daerah Jatinegara, Jakarta Timur. Seperti saat kegiatan bunga rampai yang memerkenalkan UKM-UKM yang ada di Univ Binus, dijadwalkan untuk pulang pukul 15:00 tetapi karena banyak UKM yang melewati batas waktu yang ada, yaitu 5 menit, jadi kami pun akhirnya pulang pada pukul 16:00. Pada saat saya bersama teman-teman saya menaiki angkutan umum m11 untuk ke halte Slipi-Petamburan, hujan pun turun. Macet pun menjela, kami pun menggulung celana panjang kami supaya tidak basah saat kami berjalan nanti keluar angkutan umum. Setelah sampai d tujuan, kami terlambat turun sehingga kami turun di bawah jembatan di dekat halte, karena hujan yang sangat lebat, kami memutuskan untuk berteduh dahulu di bawah jembatan tersebut sampai hujan tidak terlalu deras.

Hujan pun mulai mereda dan kami melanjutkan perjalanan kami menaiki bus Trans Jakarta. Jalan pun macet akibat hujan dan memang saat kami menaiki bus, sudah waktu pulang kantor. Alhasil perjalanan pun ditempuh dengan waktu yang lama, pada akhirnya saya sampai di rumah sekitar pukul 20:00. Keesokkan harinya saat sesi Binus Maya selesai, kelas kami ABN01 melatih yel-yel kelas kami untuk dipertunjukkan pada sesi kebersamaan keesokkan harinya, dan tak lupa, saya sempat merekam aksi teman-teman saya saat latihan. Selain melatih yel-yel tersebut, kami juga membuat fanspage kelas ABN01 di Facebook seperti yang telah disuruh, mulai saat itu pun kelas kami mengungguli kelas-kelas lain dalan jumlah like dari batch 1 dari kampus Syahdan. Tetapi setelah beberapa hari, mulai sedikit yang masih peduli tentang fanspage tersebut termasuk saya, saya pun tidak mengetahui lagi siapa yang memimpin perolehan like. Kembali ke hari sesi Binus Maya, selesai sesi, kami pun hendak mengikuti sesi kerohanian, dimana kami beribadah bersama teman-teman dengan kepercayaan yang sama. Satu per satu agama-agama yang ada dipanggil. Kebetulan saya beragama Kristen Pantekosta, sejak dulu saya merasa agama saya jarang dikenali, jadi saat anak-anak beragama Kristen Protestan dipanggil, karena merasa itu adalah agama terdekat dengan saya, saya pun mengikuti teman-teman sekelas saya yang beragama Kristen Protestan tersebut. Di depan pintu, saya sempat bertanya kepada salah satu BC saya, "ka, saya kan agamanya Kristen Pantekosta, jadi saya ikut mereka aja apa ada sendiri tempatnya?" Lalu ia menjawab "yaudah ikut mereka aja", saya pun mengikuti sesi tersebut, dan akhirnya sesi kerohanian selesai seperti biasa. Lalu kami melanjutkan latihan yel-yel kami dan kami pun akhirnya pulang seperti biasa.

Keesokkan harinya, hari sesi kebersamaan pun akhirnya tiba, awalnya saya berfikir kalau sesi keersamaan tersebut punya banyak kegiatan yang menarik, tapi saat sesi tersebut, ternyata sesi tersebut hanya untuk semua kelas menampilkan yel-yel mereka, jadi setelah kelas kami menampilkan yel-yelnya, saya jadi cukup bosan, walau pun begitu, saya sempat merekam para BC menampilkan yel-yel mereka sendiri. Keesokkan harinya adalah sesi expo, kegiatan terakhir GO dimana seluruh UKM berada di stand mereka dan mulai merekrut anggota dan calon anggota untuk masuk kegiatan mereka. Kami Binusian jurusan TI atau Teknik Informatika harus mampir ke lokasi KMJ kami, yaitu HIMTI, kepenekan dari Himpunan Mahasiswa TI, untuk melakukan tapping atau absensi agar mendapat poin SAT yang nantinya digunakkan untuk skripsi, kami membutuhkan 120 poin SAT untuk dapat menjalani skripsi, dari absensi-absensi kami dari kegiatan FEP, kami dapat memiliki maksimal 100 poin SAT sehingga kami hanya perlu mencari 20 poin lagi dalam 4 tahun untuk bisa skripsi, menurut saya itu tidaklah terlalu sulit. Kembali ke tapping di HIMTI, sesudah tapping, saya dan teman-teman saya mulai mengantri untuk mendaftar ikut acara HTTP (HIMTI Togetherness and Top Performance) yang bertemakan START (Stand Together As a Reliable Team). Dengan membayar uang sebesar 120 ribu rupiah, kami sudah mendapat tiket untuk mengikuti acara HTTP yang sudah dilaksanakkan selama beberapa tahun tersebut. Setelah terdaftar dan mendapat tiket untuk mengikuti acara HTTP, saya dan teman-teman saya terhasut untuk mendaftar SPAH untuk seleksi menjadi aktifis HIMTI. Setelah mendaftar, kami pun diberikan kertas yang berisi soal yang harus kami kerjakan dan keterangan lain tentang seleksi tersebut. Pada awalnya kami berniat untuk mengikuti seleksi tersebut, tetapi setelah beberapa hari, kami pun mulai kehilangan minta untuk menghadiri seleksi, sehingga pada hari wawancara, tidak ada satu pun dari kami yang hadir untuk wawancara.

Sisa-sisa hari itu kami lewati dengan mengelilingi kampus dan melihat-lihat UKM-UKM lain yang mungkin menarik perhatian kami, setelah seharian mengelilingi kampus, saya mendaftarkan diri untuk ikut UKM BSLC (Binus Students Learning Community), BNCC (Bina Nusantara Computer Club). Saya takut tidak dapat mengatur waktu jika saya mengikuti terlalu banyak UKM, selain itu akibat rumah saya yang jauh, sudah seperti perjalanan dari ujung ke ujung Jakarta, jika terlalu banyak UKM, pasti saya akan pulang larut malam setiap hari. GO pun selesai dan saya melanjutkan liburan selama bermingu-minggu lagi. Setelah beberapa minggu, saatnya AO atau Academic Orientation pun tiba, disaat dimana kami mulai belajar dan menyiksa otak kami dengan program-program. Kelas saya pun diacak kembali, tidak di ABN01 lagi, tetapi ke 01PST, dari semua kelas AO yang ada, saya diberitahu bahwa pembeda kelas-kelas tersebut adalah nilai toefl yang kami peroleh saat tes masuk. Dan 01PST ditempati oleh para Binusian yang memiliki toefl diatas 550. Pada hari pertama kami diajar oleh seorang dosen muda, cara mengajarnya bagus bagi saya dan teman-teman saya sekelas. Ia juga mengajar dengan cepat tapi tetap dapat kami pahami, karena cepatnya ia mengajar, setiap hari pun kami dapat pulang 1 jam lebih awal dari seharusnya. Kelas kami senang dengan hal tersebut, kami dapat pulang lebih awal dari kelas-kelas yang lain dan terkadang bisa pergi bersama setelah pulang AO walau hanya untuk makan. Beberapa hari kemudian, dosen kami memberitahu bahwa dia tidak dapat mengajar kami untuk beberapa hari kedepan karena adanya kepentingan yang harus dia urus.

Keesokan harinya, tibalah hari datangnya dosen pengganti kami, awalnya kami sedikt cemas kalau nantinya kami tidak bisa pulang cepat lagi, tetapi semua kecemasan itu hilang saat masuknya dosen pengganti tersebut. Karena disebabkan oleh kekurangan mahasiswa perempuan dalam jurusan TI sehingga sering disebut sebagai padang gersang, saat dosen pengganti masuk dan ternyata dia adalah sesosok perempuan, kelas kami pun mulai heboh. Cara mengajarnya juga sama baiknya dengan dosen kami sebelumnya, dosen ini juga mengajar dengan cepat sehingga kami pun dapat pulang lebih cepat seperti biasanya. Setelah beberapa hari dia mengajar kami, tibalah hari sabtu, hari terakhir dia mengajar kami saat AO, anak-anak kelas 01PST yang awalnya berasal dari ABN01 banyak terdengar mengatakan “yahhh....”. saat keluar kelas pada akhir pelajaran hari itu, mereka menyempatkan diri untuk berfoto bersama dengan dosen pengganti tersebut, saya pun hanya bisa tertawa di depan kelas sambil melihat teman-teman saya. Sesampainya di rumah, pada chat group sebuah social media “Line”, kelas saya kembali membicarakan dosen pengganti tersebut, lalu kompti kami yang bernama Kristian Gunawan, atau sering kami panggil “bol”, mengirimkan sebuah link Facebook yang merupakan account Facebook dosen pengganti kami. Dengan cepat saya membalas “buset.. bol udah stalking-stalking aja sampe tau facebooknya haha”. Jadi akhir hari itu saya jalani seperti biasa tetapi dengan kecerian seperti biasa di kelas.

Semua hal memiliki awal dan tentu akan memiliki akhir, baik maupun buruk semua tetap akan berakhir dengan cara yang berbeda-beda. Seperti halnya karangan saya kali ini yang berakhir disini, semua hal tentang pengalaman saya selama 1 minggu GO dan AO pada pertemuan 1-6 kemarin yang dapat saya ingat telah saya ceritakan diatas. Jadi terima kasih telah membaca, bye.